Sejarah

Profil / Sejarah

Sejarah Sekolah Islam Al-Falaah

Tidak semua mereka yang peduli kepada dunia pendidikan berarti harus menjadi pendidik. Demikian juga mereka yang mengelola sebuah lembaga pendidikan tidak berarti harus terjun sebagai tenaga pengajar. H. Ady Mansyur (Alm) bukanlah seorang guru meski pernah mengenyam Sekolah Pendidikan Guru Agama (P.G.A), Beliau juga memang punya latar belakang dari keturunan keluarga besar yang terjun ke lingkungan pendidikan. Kedua orang tuanya serta pamannya adalah seorang pengelola lembaga pendidikan sejak zaman Belanda dahulu di bilangan jalan Pegangsaan Barat Jakarta Pusat. Meski berasal dari keluarga pendidik, kedua orang tuanya tak mengarahkan agar dirinya terlibat pada kegiatan pendidikan. Kalau sekarang beliau melibatkan dalam dunia pencerdasan masyarakat, itu hanya karena izin dan karunia Allah.

Terjun mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan bermula dari inspirasi yang ditumbuhkan oleh seorang Ulama Besar DR. KH. Idham Khalid. Tahun 1984 orang tua Ady Mansyur (Alm) hendak pergi ke tanah suci. Saat itu DR. KH. Idham Khalid diundang dalam acara pelepasan kepergian haji orang tuanya. Dalam perjalanan menuju ke tempat acara, Sang Kyai yang juga sempat mengenal orang tua Ady Mansyur (Alm) ini memberi wejangan kepada beliau “Kalau punya uang, bikin sekolah”, kenangnya mengingat pesan Mantan Ketua Umum PBNU itu. Pesan ini selalu diingatnya. Ada dorongan kuat untuk dapat mewujudkan. Kapan itu bisa teraih? Perjalanan waktu dan izin Allah yang menentukan.

Sepulang haji tahun 1994, H. Ady Mansyur (Alm) mulai hendak mewujudkan pesan yang pernah diterimanya dari kyai itu. Beliau dapat rezeki, dan kemudian dibelinya tanah seluas 4 ha di wilayah Sawah Baru, Ciputat. Kemudian tahun 1996 tepatnya tanggal 18 September mulailah dibangun sekolah itu di bawah naungan Yayasan yang didirikan oleh beliau yaitu, Yayasan Al-Falaah. Pilihan nama Al-Falaah yang melekat dan mengikuti kata yayasan dan dibalik kata Al-Falaah yang berarti kemenangan ada sebuah harapan luhur tersimpan dari para pendirinya, khususnya H. Ady Mansyur (Alm). “Kami ingin membangun keluarga besar yang mempunyai kemenangan. Mereka yang memperoleh kemenangan dari kebodohan, kemenangan dari ketidakberdayaan, kemenangan dari kebohongan, dan kemenangan dari kemunafikan”, urai H. Ady Mansyur (Alm) sebagai ketua dan pendiri Yayasan Al-Falaah yang juga sebagai Bendahara Umum Syura Ulama Ka’bah (LSUK) serta Wakil Ketua Umum Forum Ulama & Habaib Jakarta.

Sejak tahun 1997, unit sekolah TK, SD, dan SMP telah beroperasi hingga kini. Diusia Yayasan Al-Falaah yang memasuki 22 tahun operasional, kini total siswa-siswi mencapai +1000 anak didik dibantu dengan 60 Tenaga Pendidik dan 35 Staf dari berbagai macam disiplin ilmu.

Tentu saja ada misi kuat yang terkandung dalam mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan itu. Ini tak lepas dari bacaannya terhadap realitas masyarakat dan dunia pendidikan khususnya, apalagi pendidikan Islam. Beliau begitu terenyuh melihat adanya kesenjangan antara idealitas Islam dan realitasnya. Ini tak lepas dari arah dan peran pendidikan selama ini. Ada dikhotomis yang terjadi pada dunia pendidikan. Ada yang semata hanya memberi ilmu tapi tak menekankan pembentukan iman. Ada pula yang menekankan penumbuhan keberimanan tanpa memperhatikan ilmu, “Yang bagus kan punya ilmu dan iman”, ucapnya. Beliau justru melihat pemberdayaan dalam pendidikan itu tak mengarah kepada pembentukan generasi yang berkualitas-berakhlak dan berkarakter. Dalam konteks inilah, terkandung misi untuk turut melahirkan dan mewujudkan generasi penerus yang dapat memajukan agama serta bangsa. Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW yang artinya: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling baik akhlaknya”, tutur Ketua Yayasan Al-Falaah Ciputat ini menukil hadits Nabi Muhammad SAW. Tentang arah pendidikan yang dicanangkan di semua unit dan jenjang sekolahnya. Menjadi anak didik yang berakhlaq dan berkarakter tentu saja diharapkan melahirkan pula suatu dorongan kuat agar mereka akhirnya nanti dapat menjadi manusia yang bermakna bagi lingkungannya. Ia ingin semua anak didik yang berada dalam dalam pembinaan dan pemberdayaan sekolahnya dapat dibawa ke arah sebagaimana yang dihadiskan oleh Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain”. Ini tidaklah mudah, di tengah-tengah rendahnya pandangan masyarakat terhadap sekolah Islam dibanding dengan sekolah lain.

Meski sejak tahun 1980-an sekolah-sekolah Islam berkualitas mulai menggeliat dan menjadi harapan masyarakat, tapi itu belum menyentuh luas. Dia baru ada di tengah kota, dan di daerah pinggiran yang mulai tumbuh belum banyak. Persoalan sekolah kualitas bukan hanya terletak pada ketersediaannya prasarana dan sarana sekolah. Hal penting adalah komitmen dan fokus dalam proses pendidikannya pada motivasi dan tujuan-tujuan berdiri dan dikelolanya sekolah. Kedua tentu saja kualitas guru yang memadai menjadi faktor pendukung, agar dapat dipercaya masyarakat menitipkan anak-anaknya untuk dididik.

Para pendiri, pengelola, dan semua staff yang tergabung harus menyadari sejak awal, bahwa kehadiran dan keterlibatannya dalam proses pembelajaran tidaklah boleh semata karena mencari pengalaman. Dia juga tak boleh didasari oleh kehendak semata mentransfer ilmu, apalagi mencari salary, “Bukan itu motivasi dan tujuannya”, tegas H. Ady Mansyur (Alm). “Semuanya diniatkan untuk beribadah dalam rangka membangun generasi penerus bangsa yang beriman, berilmu, berakhlaq dan berkarakter”, tegasnya. “Karenanya membangun generasi berbudi luhur itu harus dimulai dengan memperkuat keimanan, meningkatkan kedisiplinan, membangun kesabaran, serta menanamkan keikhlasan kepada anak didik diimbangi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa itu anak didik nantinya tak akan eksis,” terangnya.

Ketua Yayasan Al-Falaah ini tak merasa malu meniru konsep dari sekolah lain. Beliau memang mengakui mencontoh Al-Azhar kemang dan BSD dalam proses manajemen, proses pembelajaran, tapi dari sisi ekonominya beliau menyesuaikan dengan ekonomi masyarakat Ciputat dan sekitarnya saat itu. Mengapa mencontoh Al-Azhar Kemang dan BSD, karena sejak awal operasional yayasan Al-Falaah banyak mendapat bimbingan dan bantuan moril dari bapak H. M. Saelan sebagai pimpinan Al-Azhar Kemang.

Beliau menyadari bahwa melahirkan generasi berkuaitas bukanlah hal mudah. Ini harus ada kemauan kuat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah. Beliau prihatin dengan masalah pendidikan yang ada di Indonesia. “Seolah-olah berjalan di tempat”, celotehnya. Pendidikan adalah wahana melahirkan calon-calon pemimpin negara. Beliau prihatin nyatanya pendidikan Indonesia belum mampu melahirkan pemimpin yang punya akhlakul kharimah. Solusinya pemerintah harus ada kemauan kuat untuk memperhatikan secara sungguh-sungguh. Kemauan pemerintah itu akan nampak pada APBN. Kalau APBN-nya tak mendukung, bagaimana dapat melahirkan generasai yang berkualitas. Termasuk dalam hal ini adalah perhatian terhadap kesejahteraan dan kualitas guru. Jadi jangan terlalu berharap akan lahir anak didik yang berkualitas bila perhatian terhadap guru kurang diperhatikan. Alhamdulillah sejak tahun 2004 guru telah banyak disejahterakan dengan sertifikasi.

Pekerjaan Guru adalah amat mulia, tidak saja di mata Allah tapi juga di masyarakat. Pemerintah dan masyarakat harus memberi perhatian kepada mereka. Sebab ada diantara mereka yang peduli dan tidak sedikit pula yang tak perhatian. Sehingga kuncinya terletak pada pemerintah untuk memperhatikan kesejahteraan dan kualitas guru. Guru itu harus dihormati dan tak cukup dengan embel-embel Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Para guru harus diberi kesempatan dapat menikmati hari-hari pengabdiannya. Jangan biarkan mereka tercabang-cabang pikirannya, sehingga tak fokus mengajar.

Sebagai muslim tentu saja, masyarakat jangan dibiarkan menunggu-nunggu kebaikan pemerintah. Seorang muslim harus peduli dalam upaya pemberdayaan generasi muda, khususnya kaum yang lemah terutama anak-anak yatim piatu. Dalam konteks inilah beliau mengingatkan sebuah firman Allah dalam Surah Al-Ma’un (107) : 1-3, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin”. Kepedulian itu perlu ditanamkan untuk membuktikan bahwa Islam itu benar-benar mengarahkan umatnya menjadi rahmatan lil ‘alamin. Menjadi muslim yang berguna bagi siapapun dan apapun latar belakangnya.

Dengan sikap yang demikian itulah maka sesungguhnya Islam dan umat Islam akan maju meski belakangan ini tantangan itu begitu berat dan besar. Perjuangan khususnya pendidikan tidak  boleh berhenti, semua itu dilakukan agar Indonesia mempunyai para penerus yang Beriman – Berilmu – Berakhlaq & Berkarakter sehingga dapat memberikan kontribusi yang maksimal di masa mendatang.